Sejarah Evolusi Formasi Sepak Bola

Evolusi Formasi Sepak Bola – Skema dan taktik menjadi elemen penting dalam permainan sepak bola. Penerapan skema dan taktik yang mumpuni, sebuah tim mempunyai peluang lebih baik untuk memenangkan sebuah pertandingan.

Formasi dan susunan pemain menjadi representasi paling krusial dalam skema dan taktik. Bagaimana pelatih memilih pemain sesuai kebutuhan tim, yang kemudian disesuaikan dengan tipe pemain yang dimilikinya.

Setelah itu pelatih akan menemukan 11 pemain yang akan dipercaya turun berlaga. Persiapan tersebut bisa saja dilakukan sebelum atau disesuaikan ketika laga sedang berjalan.

Pada awalnya, formasi sepak bola sama sekali tidak penting. Dahulu sepak bola merupakan olahraga yang hanya mewajibkan pemainnya berlari dan menendang bola. Peraturan yang mengikatnya pun masih sangat sederhana. Sebatas bola mati akibat pelanggaran fisik atau bola yang keluar dari garis tepi lapangan. Belum ada peraturan offside, backpass dan peraturan-peraturan yang berlaku saat ini.

Federasi sepak bola Inggris (FA) pada tahun 1863 menerapkan peraturan offside. Peraturan tersebut berdampak pada munculnya taktik dalam sepak bola, sehingga tim mulai menerapkan formasi untuk mengakali sebuah pertandingan tanpa melanggar peraturan.

Peraturan sepak bola yang berkembang dan semakin kompleks, membuat formasi yang awalnya sederhana dan cenderung monoton menjadi semakin berkembang dan bervariasi. Tak hanya menggunakan formasi untuk mengakali pertandingan tanpa melakukan pelanggaran, tapi sudah berubah kearah untuk menampilkan permainan dengan cara berkelas.

Lalu bagaimana Evolusi dan perkembangan formasi sepak bola?

Formasi Sepak Bola 1-2-7

Evolusi formasi sepak bola 1-2-7

Mungkin akan menjadi hal yang aneh jika ada tim yang memainkan formasi 1-2-7 pada masa sepak bola modern sekarang. Formasi yang terkesan tidak seimbang dan cenderung rapuh di lini pertahanan sehingga berpotensi kebobolan banyak gol dalam setiap laga. Namun inilah asal mula evolusi dan perkembangan formasi sepak bola dimulai.

Skema ini populer di Inggris Raya menjelang abad-20. Menjadi tonggak awal terbentuknya formasi sepak bola. Dapat dilihat dari skema tersebut, dahulu sepak bola menyerang begitu sangat digandrungi.

Skema tersebut dapat berjalan tidak lepas dari aturan offside yang diterapkan pada masa itu belum begitu jelas seperti sekarang. Peraturan offside masih terlampau bias. Pemain akan dinyatakan offside apabila menerima bola dari rekannya di depan kiper lawan.

Susunan pemian dalam formasi sepak bola 1-2-7 terdiri dari satu bek tengah, dua gelandang dan tujuh penyerang yang dua diantaranya bisa turun membantu lini tengah. Sedangkan penyerang di kedua sisi lapangan punya tugas ekstra turun membantu pertahanan ketika mendapat serangan dari tim lawan. Gaya permainan umpan jauh dan langsung ke jantung pertahanan lawan menjadi ciri khas formasi sepak bola ini.

Pengembangan Awal Skema Formasi 1-2-7

formasi sepak bola 2-2-6

Seiring berjalannya waktu, formasi sepak bola 1-2-7 berkembang menjadi 2-2-6. Skotlandia menjadi tim pertama yang menerapkan formasi ini. Sukses menahan imbang tanpa gol Inggris dengan formasi 1-2-7 dalam laga uji coba pada tahun 1872.

Formasi 2-2-6 menghadirkan perubahan perubahan permainan yang lebih terorganisir dengan mengandalkan umpan-umpan pendek. Jarak pemain yang berdekatan formasi ini menjanjikan dimensi baru dalam permainan sepak bola.

Formasi Sepak Bola 2-3-5

Seiring berjalannya waktu, prinsip menyerang mulai mengalami pergeseran. Pelatih dan tim mulai sadar akan krusialnya menguasai lapangan tengah, walaupun prioritas utama adalah menggempur pertahanan lawan.

Demi mengakomodir kebutuhan tersebut maka terbentuklah formasi 2-3-5. Dalam formasi ini tiga orang pemain mengisi lini tengah. Formasi ini dikenal dengan sebutan formasi piramid dan merupakan pengembangan dari skema 2-2-6 yang dipelopori Skotlandia.

Formasi sepak bola 2-3-5 terdiri dari dua orang bek, tiga gelandang yang memiliki peran spesifik yaitu dua gelandang pada sisi sayap kiri-kanan dan satu gelandang tengah.

Barisan depan penyerangan di sisi 5 pemain yang bertugas menjadi juru gedor dibagi menjadi lima. winger kanan-kiri, penyerang kanan-kiri dan striker. Sebutan striker digunakan untuk menyebut penyerang yang berdiri sendiri di depan.

Preston North End menjadi tim yang sempat menggunakan formasi ini. Hasilnya,mereka menjadi klub pertama Inggris yang mampu mengawainkan gelar juara Liga Inggris dan Piala FA pada tahun 1889. Preston mendapatkan julukan “The invicible” berkat catatan menjadi tim yang tak terkalahkan.

Berkaca dari kesuksesan Preston, formasi ini menjadi primadona di seantero eropa serta banyak klub yang mencoba untuk mengadaptasi gaya bermain Preston. Untuk tingkat Timnas, Uruguay menjadi salah satu negara yang berhasil menerapkan formasi 2-3-5.

Formasi Sepak Bola 3-2-2-3

Evolusi formasi sepak bola 3-2-2-3

Formasi sepak bola 3-2-2-3 dipopulerkan oleh manajer Arsenal, Herbert Chapman pada 1925. Formasi ini juga dijuluki sebagai formasi “WM”, yang merujuk pada huruf “W” yang membentuk posisi pemain di sektor penyerangan dan huruf “M” di lini pertahanan.

Sejatinya formasi sepak bola ini merupakan pengembangan formasi 2-3-5 yang diterapkan klub Prestin North End di Liga Inggris pada 1889 dan Timnas Uruguay pada 1920. Formasi yang mengantarkan Preston North End meraih dua gelar juara Liga Inggris dan Piala FA.

Formasi ini juga sanggup menjadikan La Celeste menjadi juara Olimpiade Paris 1924 dan Olimpiade Amsterdam 1928 serta Piala Dunia Italia 1930.

Komposisi pemain dalam formasi sepak bola 3-2-2-3 menempatkan jumlah pemain yang sama banyak di lini belakang dan depan.

Terdiri dari tiga pemain bertahan (satu berperan sebagai bek tengah dan dua lainnya berperan sebagai fullback), dua gelandang bertahan dan dua gelandang serang (bisa bertransisi menjadi penyerang tengah sehingga mengubah formasi menjadi 3-2-5) dan tiga penyerang (dua winger dan satu ujung tobak).

Kunci permainan dalam formasi 3-2-2-3 terletak pada empat gelandang tengah. Empat gelandang tengah yang membentuk posisi persegi saling bersinergi dalam membangun permainan yang lebih dinamis.

Apalagi jika empat gelandang memiliki stamina berlebih, maka formasi ini dapat menghadirkan skema menyerang dan bertahan dengan tujuh pemain sekaligus. Formasi 3-2-2-3 sukses mengantarkan Arsenal meraih lima gelar Divisi satu dan sepasang piala FA pada periode 1931 hingga 1939.

Pengembangan Skema Formasi 3-2-2-3 oleh Vittorio Pozzo

Evolusi formasi sepak bola Il Metodo Vittorio Pozzo

Evolusi dan perkembangan formasi sepak bola terus berlanjut. Pelatih Gli Azzurri, Vittorio Pozzo menjadi pelaku sukses lainnya, dengan memodifikasi 3-2-2-3 menjadi 2-3-2-3. Pola yang dikembangkannya dikenal dengan sebutan formasi Il Metodo. Menggunakan pola tersebut, Italia sukses meraih gelar juara juara Piala Dunia 1934 saat menjadi tuan rumah. Serta berhasil kembali jauara Piala Dunia 1938 di Perancis.

Dalam formasi ini terdapat tiga gelandang tengah yang menjadi motor untuk mengendalikan permainan di lini tengah. Pola Il Metodo menempatkan lima orang di lini tengah dan dua bek di lini belakang.

Dua bek berperan melindungi penjaga gawang di kanan dan kiri. Bagian tengah membentuk pola piramida dan memperkuat transisi tim ketika bertahan dan menyerang. Ide besar dari strategi ini adalah mengandalkan serangan balik cepat dengan mengandalkan bola-bola udara.

Evolusi dan Perkembangan Formasi 2-3-2-3 di Era Sepak Bola Modern

Adaptasi formasi sepak bola 3-5-2

Di era sepak bola sekarang, pakem formasi 2-3-2-3 berubah menjadi 3-5-2 yang banyak diterapkan tim Serie A seperti Inter Milan dan Atalanta. Formasi yang menuntut pemain untuk cepat melakukan transisi menyerang ke bertahan ataupun sebaliknya.

Terdapat beberapa tipe gelandang yang dimainkan dalam skema formasi ini. Komposisi tiga gelandang tengah bisa saja berbeda tergantung dengan peran dan posisi pemain.

Ada tim yang biasa memainkan tiga Center Midfielder sekaligus. Kemudian ada juga tim yang memberikan peran satu gelandang lainnya sebagai gelandang serang atau bahkan menarik turun ke bawah sebagai gelandang bertahan.

Formasi Sepak Bola 4-2-4

Formasi sepak Bola 4-2-4 menjadi cikal bakal formasi yang berkembang di era sepak Bola modern. Formasi yang sampai sekarang masih diaplikasikan dalam permainan hingga detik ini.

Formasi yang dibuat berdasarkan keinginan untuk membangun tim yang kuat dalam bertahan dan menyerang. Skema ini juga yang menjadi acuan awal dalam menentukan nomor punggung pemain.

Gustav Sebas adalah orang pertama yang mempopulerkan formasi sepak bola 4-2-4 bersama Timnas Hungaria. Sebas memodifikasi formasi WM milik Herbert Chapman 3-2-2-3 menjadi 4-2-4 setelah muncul perubahan peraturan offside. Perubahan aturan offside pada 1925 membuat formasi WM yang super ofensif tak leluasa lagi diterapkan.

Formasi ini tetap ofensif, tapi tidak membuat penyerang mudah diperangkap offside. Apalagi, sebas tak jarang mengembangkan formasinya menjadi 3-2-1-4. Disinilah pertama kali muncul istilah false position.

Jadi Sebas menggunakan pemain nomor 9 sebagai striker murni tapi bergerak vertikal dari sektor gelandang. Sedangkan pemain 8 dan 10 justru ditempatkan sebagai striker, tapi berperan sebagai sayap. Bahkan Sebas pula yang menginspirasi istilah gelandang box to box dan gelandang bertahan.

Itu sebabnya, Sebas juga punya formasi pengembangan 2-3-3-2. Filosofi taktik Sebas menghasilkan The Magical Magyar Hungaria. Filosofi ini di kemudian hari dikembangkan oleh Bela Guttman.

Bela Guttman adalah seorang pelatih yang mengungkapkan pentingnya sebuah ruang dalam sepak Bola.“Jika tidak menguasai bola, kita jaga ruang. Jika sedang mengasai bola, kita cari ruang,” katanya.

Selain Hungaria, Brasil jadi tim yang mempopulerkan kehadiran formasi 4-2-4 pada 1950-an. Seleccao yang dilatih Vicente Feola berhasil menjadi juara Piala Dunia 1958 dan 1963, sedangkan The Magical Magyar jadi runner-up di gelaran 1938 dan 1954.

Di tingkat klub, salah satu tim yang berhasil menerapkan skema formasi 4-2-4 adalah Real Betis. Entrenador saat itu Lorenzo Serra Ferrer menerapkan strategi offinsive. Mengalami periode sukses saat berhasil mengantarkan klub menjuarai Copa Del Rey 2005 dan Piala Super Spanyol setelahnya.

Formasi 4-2-4 menjadi dasar berkembangnya pola permainan menggunakan empat pemain bertahan yang berdiri sejajar. Terjadinya transisi dalam menyerang dan bertahan, formasi ini memungkinkan pemain mengubah pola ketika permainan berlangsung.

Ketika bertahan, tim menerapkan formasi 4-3-3 dimana satu orang pemain depan ikut turun membantu pertahanan ke tengah. Formasi juga bisa beradaptasi menjadi 4-4-2 dimana dua winger yang bermain di sisi kanan-kiri penyerangan turun membantu bertahan dan berada sejajar dengan pemian lapangan tengah.

Di era sepak bola modern, formasi 4-4-2 dan 4-3-3 menjadi sebuah pola yang populer dan tersohor. Menjadi pola dasar dalam pengembangan taktik dan strategi sebuah tim dalam sebuah permainan. Mengisnpirasi lahirnya fullback modern yang perannya sangat jauh berbeda dengan awal perannya dalam formasi sepak bola terdahulu.

Baca juga: Profil Klub Liga Champions

Formasi Sepak Bola 4-4-2

Evolusi dan perkembangan formasi sepak bola 4-4-1

Sejarah Perkembangan dan Evolusi Formasi Sepak Bola-Formasi sepak bola 4-4-2 merupakan modifikasi dari formasi 4-2-4 yang muncul pada era 50-an. Menjadi pondasi awal sebuah pola yang memainkan empat pemain bertahan di lini belakang, guna menciptakan keseimbangan di area belakang dan lini serang.

Viktor Maslov seorang pelatih kepala asal Ukraina menjadi orang pertama yang mengaplikasikan pola 4-4-2. Maslov yang pada saat itu melatih Dynamo Kyiv membangun sebuah skema permainan yang dominan dan tekanan intens di area pertahanan lawan, dari sinilah muncul istilah counter pressing.

Berbeda dengan formasi yang kita kenal sekarang, 4-4-2 yang dikembangkannya tidak mengenal peran pemain sayap. Sehingga formasi tersebut tidak mengakomodir pemain sayap.

Formasi ini terdiri dari empat pemain bertahan (dua bek tengah dan dua fullback di sisi kiri-kanan), empat gelandang tengah dan dua penyerang. Gelandang yang berada di posisi sayap memainkan peran sebagai Wide Midfielder. Maslov membangun formasi ini tidak lepas dari aturan offside yang sudah lebih jelas. Sehingga ia memanfaatkan betul aturan tersebut untuk keuntungan tim dalam sebuah permainan.

Dalam penerapannya di lapangan, formasi sepak bola 4-4-2 ini mendorong empat pemain belakang maju hingga ke garis tengah lapangan memangkas jarak antara pemain bertahan dan pemain gelandang yang intens melakukan tekanan ke lini pertahanan lawan.

Intensitas tekanan tidak hanya saat melakukan serangan, akan tetapi Maslov menginstruksikan para pemain untuk cepat melakukan tekanan saat kehilangan bola di area lawan. Secepat mungkin melakukan pressing ketat sehingga lawan tidak sempat untuk membangun serangan. Melakukan skema bertahan dengan berusaha merebut bola di area setengah lapangan lawan.

Peran Valeyriy Lobanovskyi dalam Evolusi dan Perkembangan Formasi Sepak Bola 4-4-2

Pada 1961, Lobanovskyi adalah seorang pemain sayap muda yang bermain untuk Dynamo Kyiv. Saat itu posisi kursi nahkoda Dynamo dipegang oleh Viktor Maslov. Lobanovskyi sejatinya adalah pemain sayap yang lincah, punya visi bermain bagus dan punya teknik individu yang dominan.

Namun gaya bermainnya ini sedikit dibatasi karena taktik yang diterapkan oleh Maslov saat itu. Hal inilah yang membuat peran Lobanovskyi kurang menonjol saat itu.

Tidak mendapatkan tempat dan ruang untuk bermain, Lobanovskyi memutuskan meninggalkan Dynamo pada 1964 untuk bergabung dengan Chornomorets Odessa dan Shakhtar Donetsk. Sepeninggal dari Dynamo ia malah mengalami penurunan permainan. Terlebih pada 1968 mantan klubnya meraih tiga gelar berturut-turut.

Penurunan performa dan kegagalannya membawa tim yang dibelanya berprestasi, Lobanovskyi memutuskan pensiun dini pada usia 29 tahun. Meski begitu, dia tidak sepenuhnya meninggalkan sepak bola.

Lobanovskyi mulai memasuki karier sebagai pelatih pada 1969 untuk menangani Dnipro Dnipropetrovsk. Di sana lah dia memulai eksperimen formasi yang terpikirkan di kepalanya, termasuk mengembangkan formasi 4-4-2 milik Viktor Maslov.

Pada tahun 1973, Lobanovskyi kembali ke Dynamo Kyiv sebagai pelatih dan mulai mengembangkan serta membangun ulang skema 4-4-2 berdasarkan ide yang dimilikinya. Dia berpendapat: sepak bola butuh keseimbangan antar lini dan sepak bola juga perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pemain di dalam dan di luar lapangan.

Akhirnya Lobanovskyi mulai menerapkan formasi 4-4-2 ala dia sendiri. berbeda dengan Maslov, dia memberikan tempat dan ruang untuk pemain sayap dalam formasi tersebut. Memberikan kesempatan pemain sayap untuk masuk dalam sebuah skema permainan yang tidak dia dapat saat menjadi pemain dulu.

Lobanovskyi membuat formasi ini lebih seimbang baik di belakang, tengah maupun depan. Formasi sepak bola 4-4-2 yang diterapkannya terdiri dari empat pemain bertahan (dua bek tengah dan dua fullback di sisi kiri-kanan), empat pemain gelandang (dua gelandang tengah dan sayap di sisi kiri-kanan) dan dua orang penyerang.

Keseimbangan permainan yang diaplikasikan Lobanovskyi di Dynamo Kyiv lewat formasi, peran dan posisi pemain membuat klub mampu berbicara banyak di Eropa.

Formasi 4-4-2 ala Lobanovskyi mampu melibas Ferencvaros 3-0 di final Cup Winners’ 1975, sekarang berganti nama Europa League. Dynamo juga mampu mengandaskan Atletico Madrid di final ajang yang sama pada 1986. Sementara itu, mereka juga mampu menahan Bayern Munich 3-3 di leg pertama semifinal Champions League 1999.

Tetap diterapkan Saat Menangani Tim Nasional USSR

Pressing, gegenpress dan total football mungkin adalah istilah yang akrab dengan Jurgen Klopp, Pep Guardiola, dan Timnas Belanda. Karena sebagian orang akan lebih mengenal bahwa Sepak bola intens dan terus menekan memang identik dengan bagaimana cara tim yang dilatih pelatih tadi bermain.

Namun sudah dibahas sebelumnya, Valeriy Lobanobskyi merupakan salah satu orang yang berpengaruh dalam berkembangnya gaya bermain sepak bola tersebut. Mungkin sebagian orang menganggap remeh dan lupa. Akan tetapi sederet prestasi yang diraihnya bersama klub yang dilatihnya bisa dijadikan bukti.

Tidak hanya di Dinamo Kyiv, Lobanovskyi juga menerapkan skema formasi dan gaya bermain yang serupa saat dipercaya menangani Tim Nasional USSR. Dengan gaya melatih yang intens, tegas dan disiplin, USSR mampu berbicara di beberapa event yang pernah diikuti.

Walaupun gagal meraih gelar, setidaknya gaya bermain dan skema yang dikembangkannya menjadi pondasi awal dalam perkembangan dan evolusi formasi sepak bola hingga kini.

Adaptasi Formasi Sepak Bola 4-4-2 Lobanovskyi

Keberhasilan Lobanovskyi mengembangkan skema permainan 4-4-2 membuat banyak tim di Eropa mengadaptasi skema tersebut. Banyak tim yang merasa skema permainan tersebut sesuai dengan gaya main tim. Ada juga tim yang menerapkan skema yang sama dengan sedikit melakukan perubahan dalam hal peran pemain di lapangan.

Evolusi dan Perkembangan Formasi Sepak Bola 4-4-2 dalam Filosofi Kick and Rush Inggris

Pada tahun 1970-an formasi sepak bola 4-4-2 menjadi begitu populer. Banyak tim di tanah Inggris mengadopsi skema permainan ini karena dianggap sebagai formasi yang mudah dipahami pemain. Kebanyakan klub inggris mengadaptasi formasi ala Lobanovskyi yang mengandalkan kedua sisi sayapnya. Fullback dan pemain sayap memegang peranan penting dalam skema permainan.

Formasi ini juga jadi semakin populer seiring berkembangnya filosofi kick and rush yang terjadi pada era tersebut. Oleh karena kedua sisi diisi oleh pemain yang perannya seimbang, hal ini sangat mendukung sepak bola Inggris yang berfilosofi pada kick and rush. Filosofi ini identik tidak mau berlama-lama di lini tengah dan sering mengandalkan pemain-pemain sayap untuk memantulkan bola ke pemain ujung tombak.

Evolusi dan Perkembangan Formasi Sepak Bola 4-4-2 di Italia

Selain di Inggris, formasi 4-4-2 ala lobanovskyi juga berkembang di Italia. Namun konsep yang diterapkan di Italia sangat berbeda dari Inggris. pembagian area lapangan dan peran pemain dibuat lebih kompleks.

Tidak hanya terdapat bek tengah dan fullback, di italia muncul posisi sweeper. Di bagian depan juga muncul posisi support striker yang posisinya persis di belakang striker namun berada di depan gelandang tengah. Seperti kembali ke skema yang dikembangkan Maslov, 4-4-2 yang diterapkan di Italia lebih memaksimalkan pemain tengah atau gelandang ketimbang pemain sayap.

Di era 1990-an seiring memuncaknya kompetisi Serie A Italia skema 4-4-2 mulai semakin dikenal. Fabio Capello dan Arrigo Sacchi menjadi sosok penting dalam pengembangan dan penerapannya di era sepak bola modern. Kedua pelatih ini sukses mengantarkan AC Milan juara dengan menggunakan formasi tersebut.

Formasi sepak bola 4-4-2 ala Italia dipandang sebagai sebuah skema yang mampu menghasilkan keseimbangan dalam permainan. Otak permainan dalam skema ini terletak pada dua gelandang tengah. Satu pemain berfungsi sebagai gelandang box to box untuk mengawal pertahanan dan serangan, sementara lainnya bertugas mengatur tempo permainan.

Evolusi dan Perkembangan Formasi Sepak Bola 4-4-2

Meski mengutamakan keseimbangan dalam bermain, tapi formasi ini bisa menjadi pragmatis-defensif. Diego Simeone salah satu pelatih yang menerapkan skema 4-4-2 tersebut sesuai dengan kebutuhan dan komposisi pemain. Mengandalkan pertahanan rapat, pressing ketat dan serangan balik cepat.

Simeone sukses membuat Atletico masuk dalam jajaran klub top Eropa dengan gaya dan skema permainan yang diterapkannya. Menjuarai bebagai gelar bergengsi seperi La Liga Spanyol dan EUFA European League.

Selain Diego Simeone, Claudio Ranieri berhasil membawa Leicester City menjuarai Liga Primer Inggris pada musim 2015/2016. Dengan menggunakan skema formasi 4-4-2 namun sedikit berbeda dalam hal penerapannya.

Perbedaannya terletak pada pemain gelandang yang bermain di sisi sayap kiri dan kanan. Selain memiliki peran sebagai winger, pemain tersebut memiliki pergerakan cenderung cut inside. Lebih sering melakukan penetrasi ke dalam area pertahanan lawan ketimbang bermain melebar ke sisi lapangan.

Hal tersebut dikarenakan Ranieri memasang pemain sayap dengan kaki dominan yang berlawanan dengan posisi pemain. Seperti Riyad Mahrez yang dominan dengan kaki kiri ditempatkan di sayap kanan. Sedangkan Marc Albrighton yang dominan dengan kaki kanan ditempatkan di sayap kiri.

Baca juga: Durasi Permainan Sepak Bola

Formasi Sepak Bola 4-3-3

Formasi sepak bola 4-3-3 merupakan pengembangan formasi 4-2-4 yang dibuat Gustav Sebas bersama Hungaria dan Vicente Feola yang juga menerapkannya bersama Brasil. Formasi yang sangat ofensif dengan menghadirkan tiga gelandang di lini tengah.

Formasi 4-3-3 terdiri dari empat pemain bertahan (dua bek tengah dan dua fullback di sisi kiri-kanan), tiga gelandang tengah (satu pemain bertanggung jawab untuk fokus di lini pertahanan dan dua gelandang memiliki tugas lebih dalam membangun serangan) dan tiga penyerang (bisa menempatkan 3 penyerang sekaligus atau menugaskan dua di antaranya sebagai winger).

Total Football Belanda dalam Skema Formasi Sepak Bola 4-3-3

Formasi Tim Nasional Belanda, Piala Dunia 1974

Rinus Michels salah satu legenda Negeri Kincir Angin menjadi sosok paling berjasa yang menghadirkan formasi ini. Mengusung gaya sepak bola dinamis dan atraktif, formasi ini berkembang menjadi pakem sepak bola menyerang.

Formasi sepak bola 4-3-3 ala Michels berhasil membawa Ajax, Barcelona dan FC. Koln meraih gelar juara. sedangkan di tingkat Timnas, Ia sukses membawa Belanda menjadi runner up Piala Dunia 1974 dan Juara UEFA European Championship 1988

Dalam formasi sepak bola 4-3-3, peran dua fullback menjadi lebih krusial untuk bergerak ofensif. Menjadi pemain ekstra saat melakukan serangan. Sehingga dalam mode menyerang, formasi akan membentuk pola 3-2-5.

Pola tersebut terbentuk dikarenakan transisi satu pemain berposisi gelandang turun ke belakang membantu pertahanan sedangkan fullback maju ke depan hingga sejajar dengan posisi penyerang. Gaya permainan inilah yang biasa disebut dengan gaya sepak bola total football.

Peran Permainan Mario Zagallo sebagai Pelopor Skema Formasi 4-3-3

Selain Michels, sosok Mario Zagallo juga punya andil besar dalam perkembangan skema 4-3-3. Zagallo merupakan orang pertama yang mampu memenangkan Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih. Sebuah prestasi yang tidak biasa dan sulit untuk disamai pemain lain.

Saat masih aktif sebagai pemain, Zagallo adalah seorang Winger kiri di dalam formasi dasar 4-2-4. Melimpahnya stok penyerang Brasil saat itu, satu-satunya cara agar mendapatkan tempat di timnas adalah dengan menjadi pemain sayap kiri yang cenderung ikut bertahan saat kesebelasannya diserang.

Zagallo sebelumnya telah menempati posisi serupa, yaitu bermain sebagai Inside Forward dalam skema WM. Tidak seperti awal ditemukannya Formasi 3-2-2-3 yang hanya bertugas untuk menyerang dan mengalirkan bola, pada akhir era 1950-an atau menjelang berakhirnya pola tersebut peran pemain bertambah dengan ikut membantu pertahanan saat kesebelasannya diserang.

Karena itu, tak heran Zagallo sudah memiliki kemampuan bertahan sebelum ia mengambil peran menjadi pemain sayap. Reaksi alami Zagallo untuk memerankan peran yang lebih defensif merupakan reaksi dari perubahan dalam skema sepak bola, yaitu awal mula munculnya empat bek sejajar dan awal mula pola 4-3-3.

Asal Mula Skema Formasi 4-3-3

Awal mula transisi perubahan skema empat bek sejajar dalam formasi W-M karena salah satu center-half (Halfback) mundur lebih dalam sejajar dengan pemain bertahan. Sehingga terdapat empat pemain di lini pertahanan. Sementara tiga pemain tengah yang terbentuk dari Zagallo yang bermain lebih dalam untuk mengisi kekosongan lini tengah yang ditinggal center-half (Halfback) yang berperan sebagai bek.

Jadi komposisi 3 pemain gelandang tengah akan di isi center-half (Halfback), Zagallo yang bermain lebih bertahan dan salah satu inside forward yang berperan sebagai pengatur serangan. Formasi yang dihasilkan akan terlihat tidak seimbang, lebih tepat formasi 4-3-3 yang tidak simetris. Formasi 4-3-3 asimetris tersebut berhasil membawa Timnas Brasil menjuarai Piala Duinia 1958 di Swedia.

Mario Zagallo bukan sosok pemain paling terkenal dibanding talenta-talenta hebat yang dihasilkan Brasil. Tapi perannya vital dalam sejarah transisi perubahan peran dan posisi pemain. Dalam perkembangan sepak bola, kemunculan peran permainan yang dimainkan Zaggalo memicu kehadiran pemain sayap yang lebih komplit, yang memiliki kemampuan bertahan dan menyerang sama baiknya.

Sukses Menerapkan Skema Formasi 4-3-3 sebagai Pelatih

Piala Dunia 1970 Meksiko menjadi panggung Mario Zagallo sebagai Pelatih. Menjuarai pagelaran tersebut dan melengkapi portofolionya sebagai orang pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih.

Menerapkan skema permainan yang serupa, Zagallo tidak lupa menempatkan pemain yang berperan sebagai defensive-winger dalam susunan pemain utama. Menjadikan Brasil pada tahun 1970 menjadi salah satu kesebelasan terhebat dalam sejarah sepak bola. Brasil menampilkan permainan yang seimbang dalam bertahan dan menyerang.

Sukses Mario Zagallo Bersama Brasil di Piala Dunia 1994

Brasil kembali meraih kesuksesan di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Mario Zagallo berperan sebagai asisten pelatih Brasil saat itu Carlos Alberto Perreira. Brasil tetap memiliki pemain dengan peran sebagai defensive winger, bahkan dua pemain sayap Brasil kala itu lebih punya kemampuan kuat untuk bertahan.

Brasil memiliki Mazinho dan Zinho di kedua sisi sayap. Kedua pemain tersebut memiliki defensive-ability yang baik. Mazinho merupakan ayah dari Thiago Alcantara, pemain yang memutuskan untuk membela Timnas Matador Spanyol ketimbang Tim Samba Brasil.

Peran pemain sayap yang lebih defensive berguna melapisi agresifitas dua fullback yang dimiliki Brasil saat itu, Jorginho di kanan dan Branco/Leonardo di kiri. Dengan dua pemain gelandang tengah bertipe petarung, Brasil memiliki empat pemain gelandang yang memiliki kemampuan bertahan yang baik.

Komposisi pemain tersebut membuat Brasil dianggap sebagai kesebalasan yang un-aesthetic, memainkan permainan yang tidak enak di tonton. Akan tetapi, hasil maksimal diraih Brasil dan menjadikan negara yang pertama di dunia meraih empat gelar Piala Dunia.

Penerapan Skema Formasi 4-4-3 di Era Modern

Peran fullback dalam skema formasi 4-3-3 menjadi lebih krusial untuk bergerak ofensif. Sedangkan di lini tengah, salah satu gelandang lebih bertanggung jawab untuk menjaga kedalaman lini pertahan. Sementara dua pemain lain memiliki tugas lebih dalam membangun serangan dan mengatur ritme permainan tim.

Terdapat dua gaya dalam penerapan skema permainan di lini depan. Tim bisa saja menurunkan satu penyerang murni atau ujung tombak dan memberikan peran dua diantaranya sebagai winger. Bisa juga sebuah tim langsung menurunkan tiga penyerang sekaligus dalam penerapannya.

Barcelona menjadi tim yang identik dengan formasi 4-3-3 pada masa Frank Rijkaard dan Pep Guardiola . Selain itu, klub-klub belanda menjadikan skema formasi 4-4-3 menjadi pola yang sering diterapkan, mengingat Rinus Michels tumbuh dan besar disana. Tidak hanya di tingkat klub, skema formasi 4-3-3 menjadi ciri khas Timnas Belanda.

Ada lagi satu nama pelatih sepak bola yang identik dan selalu setia menerapkan skema formasi 4-3-3, sehingga menghadirkan julukan Zemanlandia. Dia adalah sosok pelatih flamboyan asal Republik Ceko, Zdenek Zeman. Terkenal dengan pelatih yang menerapkan atraktif dan taktik menyerang dalam skema formasi 4-3-3.

Peran Fullback yang Semakin Menyerang Mempengaruhi Sistem dan Cara Bertahan

Gaya bermain fullback yang agresif dan dominan dalam membantu serangan, membuat adaptasi baru dalam peran posisi defensive-winger yang didorong lebih naik untuk bertahan di era sekarang. Jadi pemain yang bermain di sayap atau yang dulunya winger menjadi orang pertama yang berhadapan dengan fullback. Pemain sayap ini bertugas untuk meredam serangan fullback dari belakang.

Dalam perkembangan dan evolusi sepak bola, duel antara kedua pemain menjadi hal yang unik. Seolah menjadi berkebalikan dengan apa yang terjadi di era terdahulu. Dahulu, duel antara pemain sayap dan fullback menjadi sebuah tontonan yang menarik, dengan bek luar yang harus selalu siap menerima serangan pemain sayap.

Era sepak bola modern sekarang hal kebalikan menjadi tontonan yang tersaji. Dimana fullback melakukan agresi ke lini pertahanan lawan dan pemain sayap akan selalu bersiap untuk bertahan menerima gempuran.

Keberadaan fullback yang agresif dan lebih offensive di era modern membuat permainan terlihat lebih dinamis dan atraktif. Para pemain seperti Trent Alexander-Arnold, Andrew Robertson, Achraf Hakimi, dan Alphonso Davies menjadi pemian yang fasih memerankan attacking fullback dengan menawan di lapangan.

Dominasi Skema Formasi 4-3-3 Tiki-taka ala Pep Guardiola

Kita ketahui bersama bahwa Barcelona dibawah asuhan Pep adalah salah satu tim yang sangat dominan di sepak bola Eropa. Mengusung gaya Tiki-Taka, Barcelona menjadi tim yang mampu menyapu semua gelar di semua ajang yang diikuti. Dari gelar La liga, Liga Champions, Copa Del Rey hingga Piala Super dan Piala Interkontinental berhasil mereka raih.

Mengusung skema formasi 4-3-3 permainan Barcelona sangat dominan. Memanfaatkan lebar lapangan, permainan mereka begitu mengalir dengan mengandalkan umpan-umpan pendek dan transisi pemain yang cepat.

Sepak bola possession begitu kental di gaya permainan El Barca. Tak heran jika tim asuhan Pep selalu menguasai presentasi penguasaan bola. Karena menurutnya salah satu cara untuk memenangkan pertandingan bola ialah dengan cara mengasai bola.

Sebuah tim akan punya peluang lebih besar jika mampu memiliki penguasaan bola selama pertandingan.

Baca juga:[Terlengkap] Peraturan Sepak Bola

Evolusi dan Perubahan Formasi Sepak Bola 4-2-3-1

Evolusi dan perubahan skema formasi 4-2-3-1 di era modern

Memasang empat pemain bertahan sudah menjadi pakem sejak kemunculannya di skema formasi 4-2-4. Skema yang mendasari munculnya formasi 4-4-2 di media 1960 dan terus mengalami perkembangan.

Salah satu pengembangan skema tersebut adalah formasi 4-2-3-1. Skema formasi yang berkembang pada akhir periode 90-an.

Namun jika dirunut sejarah perkembangan skema formasi ini, pelatih asal Belanda Co Adriaanse adalah orang yang telah berusaha menerapkannya  saat melatih FC Den Haag pada akhir 80an. Selain Andriaanse, Terry Venables juga telah menerapkan skema serupa saat memimpin The Three Lions di ajang EURO 1996.

Awal Kesuksesan Skema Formasi 4-2-3-1

skema formasi sepak bola 4-2-3-1 tim nasional Prancis

Butuh waktu hampir dua dekade untuk melihat keberhasilan Skema formasi 4-2-3-1 dari awal kemunculannya. Andriaanse dan Terry Venables gagal menemukan formula yang tepat dalam menjalankan skema tersebut.

Akan tetapi, Formasi 4-2-3-1 mulai berjalan efektif dan berhasil terjadi di Piala Dunia 1998. Perancis sebagai tuan rumah berhasil mengadopsi skema tersebut dengan sempurna di bawah arahan Aimé Jacquet.

Mengandalkan pemian seperti Thierry Henry, Zinedine Zidane, Youri Djorkaeff di second line, Prancis berhasil menjadi juara Piala Dunia untuk pertama kalinya. Di partai final Prancis berhasil mengkandaskan perlawanan tim Samba Brazil dengan skor meyakinkan 3-0.

Skema Formasi 4-2-3-1 Mulai Populer di Eropa

Populernya skema formasi sepak bola 4-2-3-1 di Eropa

Setelah keberhasilan Prancis dalam menerapkan skema formasi 4-2-3-1, beberapa klub Eropa mulai mengadopsi skema serupa. Salah satu tim yang mengadopsi skema formasi tersebut adalah Real Madrid.

Real Madrid yang kala itu ditangani Vicente del Bosque berhasil menerapkan skema formasi 4-2-3-1. Madrid berhasil menjadi juara Liga Champions musim 1999-2000. Setelah di final berhasil menang telak dengan skor meyakinkan 3-0 atas klub senegara Valencia.

Perlahan tapi pasti, skema formasi 4-2-3-1 mulai masuk ke tanah Britania. Berawal dari kemenangan yang di raih Real Madrid yang menerapkan skema formasi 4-2-3-1 atas Manchester United di Liga Champions 1999/2000. Saat itu, Manchester United yang berstatus juara bertahan harus mengakui keunggulan Real Madrid dengan skor 2-3. Padahal leg pertama yang berlangsung di Santiago Bernabéu, United berhasil menahan imbang El Real.

Bermula dari pertandingan itulah skema formasi mulai diadaptasi oleh tim-tim di Liga Primer Inggris. Kunci permainan dalam formasi ini adalah dua gelandang tengah dan tiga gelandang serang yang berada tepat di belakang striker. Peran dua gelandang tengah sangat sentral dalam membangun stabilitas tim saat menyerang maupun bertahan.

Susunan pemian dalam formasi sepak bola 4-2-3-1 terdiri dari empat pemain bertahan (dua bek tengah dan fullback di sisi kanan-kiri), dua gelandang bertahan (satu gelandang berperan lebih bertahan dan satu gelandang lainnya berperan untuk mengatur tempo dan ritme permainan), tiga gelandang serang (satu gelandang serang yang berposisi tepat di belakang striker yang memiliki peran sebagai pengatur serangan dan winger yang berada di sisi kiri dan kanan), Satu striker tunggal didepan sebagai tumpuan mencetak gol.

Saat penerapannya di Madrid, del Busque menempatkan dua gelandang bertahan dengan peran yang berbeda. Satu gelandang berperan lebih bertahan, bertugas untuk menutup celah dan membantu pertahanan. Tugas ini diemban dengan baik oleh Iván Helguera.

Satu gelandang lainnya berperan sebagai pengatur tempo dan ritme permaianan tim. Fernando Redondo yang saat itu merupakan kapten tim, menjalankan tugas tersebut dengan baik.

Tidak seperti gelandang bertahan kebanyakan, permainan yang diperagakan Redondo sangat elegan ketimbang pemain dengan posisi serupa pada masa itu. Bisa jadi ini merupakan bentuk awal terciptanya peran  deeplying playmaker yang lebih identik dengan gaya bermain Andrea Pirlo.

Akan tetapi skema formasi ini lebih identik dengan keberadaan gelandang bertahan tangguh. Pada awal 2000an saat formasi ini mulai digandrungi di Inggris, tim yang menggunakan skema formasi 4-2-3-1 dinilai sebagai tim yang bermain dominan. Keberadaan dua gelandang bertahan membuat tiga gelandang serang leluasa membangun serangan.

Munculnya Peran Gelandang Bertahan dalam Evolusi dan Perkembangan Skema Formasi Sepak Bola 4-2-3-1

Makelele sebagai role model ideal di posisi pemain gelandang bertahan

Era inilah muncul peran yang identik dengan gaya permainan salah satu pemain bertahan terbaik di masanya. Dia adalah mantan pemain Real Madrid dan Chelsea, Claude Makelele. Pemain yang dianggap paling sempurna dalam menjalankan peran tersebut.

Dominasinya di lini tengah saat membela klub dan timnas Prancis memunculkan istilah Makelele Role. Sebuah rujukan bagaimana seharusnya sorang gelandang bertahan bermain.

Kedatangan Makelele di Premier League menjadi tonggak baru dalam perkembangan skema formasi dan peran gelandang tengah di Inggris. Gaya permainannya yang berbeda memberi warna baru dan pendekatan permainan tim-tim di Inggris.

Sejak kedatangannya pula banyak tim di Liga Primer Inggris mulai mengadopsi dan mengembangkan skema formasi 4-2-3-1.

Peran Pemain Nomor 10 dalam Evolusi dan Perubahan Skema Formasi Sepak Bola 4-2-3-1

Peran pemain no 10 Raul Gonzalez di Real Madrid

Tidak hanya di lini tengah, skema formasi 4-2-3-1 juga memunculkan peran baru di lini depan. Tepatnya pemain yang berada di posisi belakang striker. Posisi yang kerap disebut dengan istilah pemain no 10. Ada beberapa peran yang dimainkan gelandang serang ini sesuai dengan kebutuhan tim dan gaya bermain pemain.

Contohnya peran Raul Gonzalez di Real Madrid, dia tidak menjadi pengatur serangan akan tetapi dia berperan lebih sebagai striker pendamping. Peran playmaking diperankan oleh Fernando Redondo di lini tengah.

Perannya sebagai striker pendamping berfungsi melakukan tusukan dan membuka ruang di kotak penalti. Maka dari itu, walaupun berposisi tepat dibelakang Striker, torehan gol Raul cukup apik.

Peran pemain no 10 Valeron dalam formasi sepak bola 4-2-3-1

Berbicara tentang pemain no 10 dalam skema 4-2-3-1, tim spanyol lain yang sukses menerapkan pola serupa adalah Deportivo de La Coruña. Juan Carlos Valerón secara apik memerankan peran pemain no 10. Akan tetapi berbeda dengan Raul, Valerón berperan penuh sebagai otak serangan tim.

Memiliki peran untuk membangun serangan dari belakang. Tidak memiliki kekuatan fisik mumpuni akan tetapi memiliki akurasi umpan dan tendangan langsung ke gawang yang akurat.

Seiring berkembangnya taktik sepak bola, peran pemain no 10 terus berkembang dan mengalami perubahan. Perubahan yang disesuaikan kebutuhan tim dan kemampuan pemain. Seperti Okazaki saat bermain untuk Leicester City menempati posisi tersebut, namun peran yang dimainkannya ialah sebagai defensive forward.

Menjadi salah satu pemain kunci dalam keberhasilan Leicester memenangi Liga Primer inggris. Sebuah peran yang membutuhkan kekuatan fisik dan endurance yang luar biasa untuk terus menekan pertahanan lawan. Pemain yang terus konstan melakukan pressing ke pemain bertahan lawan.

Formasi Skema Formasi 4-2-3-1 di Era Sepak Bola Modern

formasi sepak bola era modern

Dalam satu dasawarsa terakhir, banyak tim yang mendominasi Eropa menerapkan skema fromasi 4-2-3-1. Chelsea, Bayern Munchen, Real Madrid adalah tim yang berhasil juara Liga champions dengan skema formasi tersebut.

Perkembangan skema formasi 4-2-3-1 satu dekade terakhir seolah menjadi awal mula meredupnya pamor 4-3-3 yang dikembangkan Pep Guardiola. Terbukti sudah 10 musim strategi sepak bola tiki-taka Pep Guardiola gagal menghadirkan gelar Liga champions.

Kesimpulan

Skema formasi akan terus mengalami evolusi dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan tidak hanya akan terjadi pada pola permainan, akan tetapi juga pada peran pemain di lapangan.

Sepak bola modern memberikan gambaran jelas, bahwa formasi yang diterapkan tidak serta merta menjelaskan peran pemain di lapangan. Terdapat peran pemain yang disesuaikan dengan taktik dan strategi yang diterapkan. Selain itu, kemampuan pemain juga menjadi faktor utama dalam penentuannya.

Sepak bola modern menuntut permainan menyerang, atraktif dan menghibur. Akan tetapi akan selalu ada tuntutan bagi sebuah pelatih untuk membawa sebuah klub berprestasi. Sebuah dua hal yang kadang berseberangan dan tidak selalu berjalan mulus.

Salah satu cara untuk meraih kesempurnaan permainan adalah menemukan skema formasi yang tepat dan komposisi pemain yang sesuai. Seperti skema permainan Tiki-taka ala Pep Guardiola di Barcelona. Sebuah skema yang sempat mendominasi sepak bola Eropa dengan sepak bola possession yang atraktif dan menghibur.

Baca juga: Analisis Pergantian Pemain Sepak Bola

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *