Pola Tiga Defender (Peralihan Formasi Club-club Sepak Bola Di Eropa)

Pola Tiga Defender – Dalam dua dekade terakhir mayoritas tim di Eropa menggemari formasi sepak bola dengan empat defender di lini belakang. Mereka sering menerapkan pola 4-4-2, 4-3-3, 4-2-3-1 atau variasi lain yang mengandalkan empat bek sejajar.

Seiring perkembangan zaman perubahan pun terjadi. Banyak pelatih yang melakukan perubahan dalam menyusun formasi atau skema permainan. Menyesuaikan pola permainan yang diterapkan berdasarkan lawan yang akan dihadapi.

Sehingga pola empat defender di lini belakang tidak selalu menjadi pakem yang digunakan oleh tim-tim di Eropa. Banyak pelatih yang mulai kembali menerapkan formasi sepak bola dengan pola tiga defender. Pola yang beberapa musim lalu sempat ditinggalkan, kini muncul kembali.

Fenomena Kembalinya Pola Tiga Defender

formasi sepak bola pola tiga defender

Musim lalu banyak tim-tim di liga besar eropa yang menanggalkan pola empat defender dan mulai membiasakan diri dengan strategi 3 bek. Formasinya bisa pola 3-5-2, 3-5-1-1, 3-4-3 atau turunannya.

Inter Milan, Atalanta, Lazio di Serie-A Italia konsisten memakai formasi itu dan meraih hasil positif.  Selain tim tadi, beberapa tim lain seperti Wolverhampton, Shefield United di liga primer Inggris, Borussia Dortmund, RB Leipzig di Bundesliga Jerman, dan Olimpique Lyonnais dari Ligue 1 Perancis sukses menerapkan pola yang serupa.

Alasan Pelatih Menerapkan Pola Tiga Defender

Formasi sepak bola atalanta
SciSports

Masing-masing tim punya alasan berbeda kenapa memakai pola tiga bek. Pelatih Lyon, Rudi Garcia Merasa memakai tiga pemain belakang merupakan opsi yang pas. Sebab dengan tiga pemain belakang, lini tengah Olimpique Lyonnais jadi lebih maksimal.

Gian Piero Gasperini, pelatih Atalanta punya alasan sendiri. Dia memakai pola 3-4-1-2 agar timnya punya keseimbangan saat menyerang dan bertahan. Begitu juga dengan Antonio Conte, usai ditunjuk menjadi arsitek Inter Milan, dia mengubah strategi tim ke pola 3-5-2. “Kami terus mencobanya dan saya puas pemain telah bekerja keras”, ujar Conte pada musim lalu.

Menerapkan Pola Tiga Defender Sebagai Usaha Ikuti Perkembangan Taktik

Selain kecocokan karakter pemain dan demi keseimbangan tim, ada alasan lain kenapa pola tiga bek kembali marak di liga besar eropa. Dalam dua musim terakhir, tim-tim yang mengandalkan playmaker atau gelandang serang sebagai roh lini serang kerap kesulitan dalam menembus pertahanan lawan yang dijaga tiga bek. Pasalnya, dalam formasi tiga bek, ada satu pemain yang secara khusus mengawal pergerakan playmaker lawan.

Keuntungan lain dari konsep tiga bek adalah makin kuatnya lini tengah. sebab jumlah gelandang otomatis bertambah. Alhasil, tim yang mengandalkan formasi empat bek sering  kalah jumlah dalam pertempuran lini tengah.

Pertahanan Rapat dan Serangan Balik menjadi Kunci Utama

Strategi tiga bek juga pas untuk permainan serangan balik. Pasalnya, para gelandang bisa fokus menyerang tanpa harus banyak membantu pertahanan. Maklum, sudah ada tiga pemain belakang yang siap menjadi tembok kokoh sekaligus memulai serangan jika menginginkan counter attack.

Guardiola membenarkan fakta tersebut. “Paling meyakinkan bertahan dengan tiga bek. Area bertahan akan lebih rapat dan tertutup. Dengan tiga pemain di jantung pertahanan, akan lebih mudah untuk menguasai bola kembali. Jika tim dalam keadaan tertekan, satu dari tiga pemain belakang kita bisa menyulitkan lawan,” terang Guidolin.

Mantan pelatih Juventus dan Ac Milan, Alberto Zaccheroni juga membenarkan pendapat Guidolin. Menurut dia, bertahan dengan pola tiga bek merupakan solusi jitu. “Dalam jangka pendek dan panjang. Dengan tiga pemain belakang, tim tak perlu menambah striker dan hanya tinggal mencari gelandang handal,” tegas Zaccheroni.

Keberhasilan dan Raihan Prestasi

Getty Images

Strategi pertahanan dengan memasang tiga pemian belakang sebenarnya bukan hal baru di eropa. Pada era 1990-an strategi ini marak di kompetisi tertinggi Italia Serie-A. beberapa di antaranya bahkan sempat melahirkan prestasi fenomenal.

Sebagai contoh, AC Milan pada era Alberto Zaccheroni. Pada 1998-1999 Zaccheroni selalu memainkan tiga bek di lini belakang. Hasilnya, Milan sukses meraih scudetto. Sempat hilang di medio 2000-an awal, pola tiga bek kembali banyak diterapkan tim-tim di Serie A.

Gian Piero Gasperini berhasil menerapkan pola 3-4-3 dan sukses membawa Genoa menduduki peringkat kelima 2008-2009. Sebuah pencampaian tertinggi Genoa setelah 19 tahun.

Pelatih Napoli, Walter Mazzari pada musim 2011-2012, berhasil dalam memakai konsep tiga bek. Dia berhasil mengantarkan Napoli meraih tiket Liga Champion musim itu. Selain itu, Napoli juga berubah menjadi tim papan atas Serie-A.

Hegemoni yang Terus Berlanjut

Fenomena kembalinya pola tiga defender terus berlanjut hingga musim berikutnya. Tim seperti Udinese, Napoli dan Fiorentina memakai formasi ini. Musim 2012-2013 banyak tim-tim Serie-A yang meninggalkan pola empat defender dan mulai membiasakan diri dengan strategi tiga defender.

Simone Inzaghi sukses membawa Lazio menjuarai Copa Italia musim 2018-2019 dan Supercoppa Italia musim 2019-2020 menggunakan pola pertahanan yang serupa. 3-5-2 dan 3-6-1 menjadi pola yang sering diterapkannya di Lazio.

Juventus menjadi tim yang paling sukses menerapkan konsep tiga bek. Pelatih Juventus, Antonio Conte berhasil mempersembahkan tiga gelar scudetto memakai konsep tiga bek.

Menyebrang ke Liga Primer Inggris

Setelah setahun sempat menangani timnas Italia, Antonio Conte memutuskan kembali untuk melatih klub. Pada 4 april 2016 Chelsea mengontrak Antonio Conte dengan durasi tiga tahun. Awal kedatangannya di Chelsea, dia tidak langsung menerapkan pola tiga defender seperti apa yang diterapkannya di Juventus.

Kekalahan Chelsea 2-1 saat menghadapi Liverpool di kandang mereka sendiri dan kalah lagi 3-0 saat bertamu ke kandang Arsenal menjadi asal mula Conte menerapkan pola tiga defender. Pada 1 Oktober 2016, dia mencoba melakukan sebuah perubahan dan berdampak positif.

Keberhasilan Conte Menerapkan Pola Tiga Defender di Liga Primer Inggris

Conte tiga defender

Perubahan formasi ke pola tiga defender membuat tim tampil lebih stabil dan konsisten. Berkat perubahan tersebut Chelsea berhasil dibawanya juara di akhir musim. Menjadi musim pertama Conte di Liga Primer Inggris memakai sistem tiga defender di Chelsea.

Keberhasilan Conte (dan Chelsea) bermain dengan tiga bek lantas “diikuti” oleh beberapa kesebelasan lain di Inggris. Tottenham Hotspur, Arsenal dan, Manchester United bermain dengan format tiga bek dibeberapa pertandingan di musim tersebut.

Perkembangan Pola Tiga Defender

Wolverhampton pola tiga defender

Sepeninggalan Conte, pola tiga defender makin marak diadopsi tim di Liga Primer Inggris. Sebut saja Wolverhampton dan Sheffield United yang konsisten menerapkan pola tersebut. Wolverhampton yang dilatih Nuno Espirito Santos berhasil membuat kejutan dengan mampu bersaing di papan atas.

Sedangkan Sheffield United yang merupakan salah satu tim promosi berhasil membuat kejutan dengan berada di papan tengah. Pelatih Sheffield, Chris Wilder berhasil menerapkan pola tiga pemain bertahan dan menjadikan timnya menjadi salah satu kuda hitam di Liga Primer Inggris.

Semakin Banyak Tim yang Menerapkan

Klub RB Leipzig dan Pola tiga defender

Selain klub tadi, tim-tim papan atas Liga Primer seperti Liverpool, Manchester City, Manchester United, Chelsea, Arsenal dan, Tottenham di beberapa pertandingan menerapkan pola serupa. Walaupun tidak sepanjang musim diterapkan, namun kecenderungan pola tiga defender seakan menjadi pilihan saat menghadapi beberapa pertandingan penting.

Pola tiga defender juga mulai marak diterapkan tim di berbagai liga. Tidak hanya diterapkan di kompetisi liga saja, banyak tim menerapkan pola tiga defender di ajang Liga Champion dan Europa Leage. Tercatat RB Leipzig, Olimpique Lyonnais, Manchester City, dan Atalanta memakai pola tiga bek. RB Leipzieg, Olimpique Lyonnais, dan Atalanta menjadi tim yang paling konsisten menerapkan pola tersebut.

Merambat hingga Liga Champions dan Liga Europa

Pola Tiga Defender Inter Milan

Sementara di Liga Europa, Inter Milan yang konsisten memainkan pola tersebut berhasil maju hingga ke babak final. Selain Inter, Manchester united sesekali memakai pola tersebut saat menghadapi beberapa laga.

Pola tiga defender menjadi pola yang efektif untuk diterapkan tim yang mengandalkan kolektifitas dan mengendepankan permainan tim. Terbukti Arsenal musim ini berhasil meraih gelar Piala FA dan Community Shield dengan pola tiga defender. Mikel Arteta meraih hasil positif kendati baru menukangi tim di paruh musim menggantikan Unay Emery. Arteta berhasil mengubah pola permainan Arsenal menjadi lebih mengedepankan kolektifitas dan kerjasama tim.

Kesimpulan

Pola tiga defender kemungkinan besar akan tetap menjadi pola yang akan tetap tren di musim depan. Mengingat hasil positif oleh masing-masing tim yang menerapkan pola ini. Bisa jadi tim hanya akan melakukan perubahan di komposisi pemain di posisi tertentu yang dianggap masih perlu diadakan perbaikan.

Baca juga : Transfer Pemain Sepak bola

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *